Jumat, 18 Oktober 2019

Iteration and Recursion Pre-K – Grade 2



Pada grade ini siswa hanya diperkenalkan sebatas iterasi saja belum sampai ke rekusrsi. Kegiatan yang dilangkungan biasanya menampilkan pengulangan gambar kemudian siswa melanjutkan gambar-gambar di suku berikutnya atau pun pengulangan angka keudian siswa yang melanjutkan di suku-suku berikutnya. Kata yang perlu ditekankan guru pada siswa agar dapat memahami iterasi apada tingkatan ini adalah “Pengulangan” dengan mendengarkan kata tersebut siswa dapat menentukan suku selanjutnya Karena ia tahu bahwa suku selanjutnya akan selalu berulang.

Perhatikan gambar dibawah ini sebagai contoh:

Suku ke-1
Suku ke-2
Suku ke-3
Suku ke-4
Suku ke-5






Maka dengan mengetahui bahwa gamabr tersebut berulang maka siswa dapat menentukan gambar apa yang akan muncul pada suku ke-4 dan suku ke-5. Gambar yang akan mucul pada suku ke-4 bintang dan suku ke-5 adalah bulan sabit.

Setelah diperkenalkan dengan gambar maka selanjutnya siswa diperkenalkan dengan iterasi angka yang berulang.
1, 4, 3, 1, 4, 3, 1, …

Maka dari angka berulang tersebut siswa dapat menentukan angka pada suku selanjutnya yaitu 4, 3 ,1 dan seterusnya


Referensi:

DeBellis, V. A., Rosenstein, J. G., Hart, E. W. & Kenney, M. J. (2009). Navigating through discrete mathematics in Prekindergarten – Grade 5. Reston, VA: The National Council of Teachers of Mathematics, Inc.

Share:

Selasa, 08 Oktober 2019

Paper tentang Lesson Study

PERAN LESSON STUDY DALAM DUNIA PENDIDIKAN
1)Aisyah Turidho, 2)Devi Kumala Sari, 3)Reno Sutriono dan 4)Resti Indah Kusuma
Pendidikan Matematika
Universitas Sriwijaya

Kalau bicara soal pendidikan tentu tidak akan pernah ada habisnya. Hal tersebut karena pendidikan merupakan salah satu bidang yang sangat berguna untuk memajukan negara. Untuk itu, setiap warga negara patilah menginginkan kemajuan pendidikan di negaranya.
Akan tetapi, kemajuan pendidikan sepertinya belum telalu terlihat di Indonesia. Khususnya pada mata pelajaran matematika. Hal tersebut terbukti dari Hasil PISA Matemaika anak Indonesia pada tahun 2012 dan 2015 yang memiliki selisih rata-rata skor yang sangat jauh bila dibandingkan dengan rata-rata internasional. OECD (2014) dan OECD (2016) menyatakan bahwa rata-rata skor PISA matematika anak Indonesia pada tahun 2012 yaitu 375 dan rata-rata internasional yaitu 494 sedangkan rata-rata skor PISA matematika anak Indonesia pada tahun 2015 yaitu 386 dan rata-rata internasional 490.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia masih memiliki masalah besar yang belum terselesaikan. Maka dari itu, kurikulum semakin sering di revisi dengan tujuan agar masalah pendidikan tersebut dapat teratasi.
Salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan adalah dengan memperbaiki sistem pembelajaran di kelas. Sistem pembelajaran tersebut tentunya dapat diperbaiki dengan menggunakan metode, model maupun pendekatan pembelajaran agar siswa terarah dalam pembelajaran serta berani untuk lebih terlibat aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Lalu, bagaimana memberikan suatu pembelajaran pada siswa? Lesson study merupakan salah satu alternatif yang dapat menjadi acuan guru dalam menentukan pembelajaran di kelas. Lesson study merupakan sistem pembelajaran yang diterapkan dikelas terhadap peserta didik dimana guru berperan sebagai fasilitator. Dalam melaksanakan lesson study terdapat beberapa tahap yaitu plan, Do, See dan Re-Design (Sato, 2014).
Pada tahap plan terdapat guru model yang merancang pembelajaran dibantu oleh guru-guru lainnya. Pada tahap do, guru model melaksanakan pembelajaran sesuai yang telah direncanakan. Pada tahap refleksi, perkumpulan guru membahas seputar pembelajaran yang telah dilaksanakan dikelas dan setelah itu melakukan re-design untuk memperbaiki pembelajaran yang telah dilakukan.
Hal tersebut tentulah sangat bermanfaat. Dengan adanya lesson study guru akan semakin mengenali cara belajar siswanya, kendala apa saja yang dihadapi siswa dalam pembelajaran serta mampu menemukan alternatif untuk mengatasi kendala siswa tersebut dengan mendiskusikannya bersama guru-guru lain.
Bila lesson study sering dilaksanakan setidaknya 50 kali dalam setahun, guru akan semakin mengenali cara belajar siswanya serta kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran. Hal tersebutlah yang dapat menjadi acuan bagi guru dalam mendesai pembelajaran yang lebih baik lagi di kelas. Dan bila pembelajaran di kelas sudah sangat baik, kendala-kendala dalam dunia pendidikan akan bisa teratasi dan generasi Indonesia memiliki daya saing dengan generasi negara lain.

Rujukan
OECD. (2014). PISA 2012 Results in Focus: What 15-Year-Olds Can Do with What They Know. https://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf. Diaskes pada 15 April 2018
OECD. (2016). PISA 2015 Results Exellence and Equity in Education Volume I. http://www.oecd.org/education/pisa-2015-results-volume-i-9789264266490-en.htm. Diaskes pada 15 April 2018

Triwiyono, E. (2017). Pengembangan Assessment for Learning (AFL) Melalui Lesson Study pada Praktik Pemesinan SMK Sesuai Kurikulum 2013. Jurnal Dinamika Vokasional Teknik Mesin. 2 (1): 28-36.
Share:

Paper tentang Pendidikan Karakter

PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA HARUS LEBIH DIBENAHI
1)Aisyah Turidho, 2)Devi Kumala Sari, 3)Reno Sutriono dan 4)Resti Indah Kusuma
Pendidikan Matematika
Universitas Sriwijaya

Anak bangsa merupakan generasi penerus yang dapat menjadi aset bangsa dalam memajukan negara. Maka dari itu, anak bangsa haruslah memiliki karakter yang baik. Menanamkan karakter yang baik pada anak bangsa, tak kalah pentingnya dengan membantu siswa dalam penguasaan akademik. Karakter dapat membantu pribadi anak bangsa menjadi lebih peduli pada lingkungan, mental yang berani dan percaya diri serta memiliki moral yang baik.
Namun, pada kenyataannya sering kali kita dengar kasus-kasus yang tidak seharusnya terjadi berkaitan dengan karakter anak bangsa. Salah satunya yaitu siswa SMP melempar gurunya dengan kursi hanya karena ditegur saat main HP (Detik, 2018). Selain itu, juga ada lagi kasus yang lebih memprihatinkan yaitu sesorang siswa memukul guru seni rupa hingga tewas karena sakit hati ditegur (Liputan6, 2018).
Hal tersebut menjadi tanggung jawab kita semua, khususnya guru dalam membentuk karakter bangsa agar kasus yang demikian tidak akan pernah terjadi lagi.  Maka dari itu, pada kurikulum 2013 pendidikan karakter semakin ditekankan dan menjadi tanggung jawab guru untuk melibatkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Jadi, guru tidak sekedar mengajar saja tetapi juga mendidik karakter anak menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun, yang sangat mirisnya terdapat beberapa kasus tidak baik yang dilakukan oleh guru. Salah satunya yaitu guru SMP di Jombang mencabuli 25 murid perempuan (Kompas, 2018). Padahal, hal tersebut tidak seharusnya terjadi apalagi dilakukan oleh seorang pendidik yang seharusnya membentuk karakter yang baik pada siswa.
Kasus-kasus yang tidak baik diatas, baik yang dilakukan oleh siswa maupun oleh guru. Harus mendapat perhatian khusus bagi pemerintah. Pendidikan karakter harus dibenahi lagi. Bukan hanya pembenahan pada siswa saja, tetapi karakter gurunya pun juga harus dibenahi. Guru dengan karakter yang baik tentunya akan berpotensi menghasilkan siswa dengan karakter yang baik pula.

Rujukan
Detik. (2018, Maret 09). Lempari Guru dengan Kursi karena Ditegur Main HP, Siswa SMP Ditangkap. https://news.detik.com/berita/d-3907303/lempari-guru-dengan-kursi-karena-ditegur-main-hp-siswa-smp-ditangkap. Diakses pada 20 Maret 2018
Kompas. (2018, 02 15). Guru SMP di Jombang Cabuli 25 Murid Perempuan. https://regional.kompas.com/read/2018/02/15/13032141/guru-smp-di-jombang-cabuli-25-murid-perempuan. Diakses pada 20 Maret 2018

Liputan6. (2018, Februari 02). Sakit Hati Ditegur, Siswa Pukul Guru Seni Rupa Hingga Tewas. https://www.liputan6.com/regional/read/3250395/sakit-hati-ditegur-siswa-pukul-guru-seni-rupa-hingga-tewas. Diakses pada 20 Maret 2018
Share:

Resume tentang Lesson Study Learning Community (LSLC)

LSLC (Lesson Study Learning Community)

Apa itu Lesson Study Learning Community?
LSLC merupakan sistem yang mendorong terbentuknya komunitas belajar untuk melakukan perbaikan diri secara konsisten dan sistematis dalam Kegiatan Belajar Mengajar (Putri, 2012).

Tahapan dalam LSLC
Maasaki (2014)  menggambarkan tahapan LSLC pada bagan berikut:

Gambar 1. Tahapan LSLC

Keterangan:
·  Plan: Merencanakan proses pembelajaran secara bersama-sama dengan menyusun berbagai perangkat pembelajaran serta menentukan siapa yang menjadi observer dan guru model.
·    Do: Implementasi atau melaksanakan proses pembelajaran yang sudah direncanakan bersama-sama dimana guru model yang menjadi fasilitator dalam kegian belajar sedangkan observer mengamati proses pembelajaran secara cerpat dengan memperhatikan secara detail proses pembelajaran misalkan memperhatikan mimik/ekspresi wajah peserta didik dari kebingungan hingga paham
·     See/Refleksi: Secara bersama-sama merefleksi kegiatan belajar yang sudah dilaksanakan meninjau kelebihan dan kekurangan dalam proses pembelajaran serta mendiskusikan penyebabnya untuk dijadikan landasan dalam mendesain kembali
·     Re-Design: Mendesain kembali proses pembelajaran apabila masih ada kekurangan dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk memperbaiki kekurangan tersebut.

Tata Cara Pembelajaran
·      Terdapat 3 Aturan
Aturan 1: Peserta didik yang belum memahami cara penyelesaian soal, jangan malu, tetapi harus bertanya kepada temannya.
Aturan 2: Peserta didik yang ditanya harus menjelaskan pemikinnya secara terbuka, dan berulang kali menjelaskan cara penyelesaiannya sampai teman tersebut benar-benar paham.
Aturan 3: Peserta didik yang sudah selesai menjawab soal tidak boleh menawarkan mengajari peserta didik lain yang belum menyelesaikan soal

·     Melatih peserta didik dengan dasar diskusi sebagai berikut:
-          Saling menyimak pendapat pihak lain
-          Menghargai pikiran dan pendapat pihak lain
-          Memiliki landasan dan alasan tentang pikiran dan pendapat diri sendiri
-          Berdasarkan landasan dan alasan, dapat mengungkapkan pemikirannya
-          Menanggapi pendapat atau pikirah pihak lain

·         Denah tempat duduk dibuat seperti huruf “U”
Denah seperti ini sangat cocok untuk kegiatan dialog agar memudahkan peserta didik dalam berdiskusi kelompok serta ekspresi dan mimik wajah peserta didik dapat benar- benar terlihat. Satu kelompok terdiri dari 3 – 4 orang dimana jumlah anggota lelaki dan perempuan harus berimbang dan duduk secara menyilang akan tetapi masih memperhatikan kondisi dari sekolah tersebut. Misalnya saja di sekolah madrasah perempuan dan laki-laki tidak bisa dalam satu kelompok.

·         Tugas guru yaitu menyimak, menghubungkan, mempelajarai kembali dan membimbing
-     Menyimak, guru perlu menyimak gumaman atau ungkapan peserta didik dan jika peserta didik tidak dapat menyampaikan alasannya dengan jelas maka guru harus memancing peserta didik agar mengungkapkan alasannya.
-   Menghubungkan, guru harus menghubungkan ungkapan peserta didik dengan peserta didik lainnya atau media berupa benda atau perihal. Misalnya guru bertanya pada peserta didik lainnya “Bagaimana pendapat kalian?” jika terdapat peseta didik yang mengungkapkan kebingungannya
-   Mempelajari Kembali, Ketika ada peserta didik yang bingung guru dapat meminta mereka mempelajari kembali atau membaca kembali dangan tujuan untuk meluruskan pikirannya
-    Membimbing (Melakukan Care), Guru harus dapat membaca apa yang disampaikan peserta didik dan dengan tepat menghubungkan hal itu ke peserta didik lain, benda ataupun perihal terkait.

·         Pada bagian awal sharing task dan pada bagian akhir jumping task
Sharing task yaitu materi yang perlu diketahui oleh peserta didik sebagai pengetahuan dasar sedangkan jumping task yaitu materi sulit yang perlu ditelaah dengan seksama oleh peserta didik. Misalkan dalam Sharing peserta didik diberi tugas melukis segi lima beraturan dan pada saat jumping peserta didik diberi tugas menggambar poligon bintang

Referensi
Masaaki, S. Dialog dan Kolaborasi di Sekolah Menengah Pertama: Praktek Learning Community. Diterjemahkan Oleh Sachie, O, 2014. Jakarta: JICA
Putri, R.I.I (2012). Implementasi lesson study melalui pendekantan PMRI pada mata kuliah metode statistika I. Diakses dari https://docplayer.info/31112960-Implementasi-lesson-study-melalui-pendekatan-pmri-pada-mata-kuliah-metode-statistika-i.html

Share:

Minggu, 08 September 2019

Pemanfaatan ICT dalam Pembelajaran Matematika


Oleh: Aisyah Turidho (NIM: 06022681923015)
 Mahasiswa Program Magister Pendidikan Matematika
Universitas Sriwijaya Angkatan 2019

ICT (Information, Communication and Technology) menjadi salah satu hal yang sangat penting di era globalisasi ini (Rahim, 2011) misalnya dalam pengelolaan keuangan di pusat perbelanjaan, sistem yang mengatur penerbangan, aplikasi ojek online dan lain sebagainya. Selain itu, ICT dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan.

ICT dapat digunakan dalam proses belajar mengajar agar guru sebagai fasilitator dapat menciptakan proses pembelajaran yang lebih kratif dan inovatif. Hal ini sejalan dengan Chodzirin (2016) yang menyatakan bahwa ICT dapat digunakan oleh guru dalam pengemasan informasi untuk menunjang proses belajar mengajar. ICT memiliki peran atau fungsi utama yaitu menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan, membekali kecakapan peserta didik dalam penggunaan teknologi serta sebagai alat pembelajaran dengan program – program aplikasi dan utilitas (Suryadi, 2007).

Dalam pembelajaran matematika, banyak sekali aplikasi yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Misalnya saja geogebra. GeoGebra dapat digunakan sebagai media dalam pokok bahasan geometri. Menurut Romadhoni & Asngari (2015), “Program GeoGebra dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran matematika untuk mendemonstrasikan atau memvisualisasikan konsep-konsep matematis serta sebagai alat bantu untuk mengkonstruksi konsep-konsep matematis”.

Selain berbagai aplikasi, guru juga dapat membuat media pembelajaran yang berbasis ICT misalnya menggunakan macromedia flash. Melalui macromedia flash, guru dapat membuat animasi pembelajaran matematika yang memungkinkan visualisasi agar peserta didik lebih memahami konsep dari suatu materi karena animasi akan menambah ketertarikan peserta didik  akan materi yang dibahas dalam proses pembelajaran (Andini & Supriadi, 2018).

Banyak sekali teknologi yang memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pembelajaran termasuk pembelajaran matematika. Oleh karena itu, sebagai seorang guru ataupun calon guru sebaiknya kita menguasai ICT dan mampu menggunakan ICT dalam pembelajaran.

Referensi:
Andini, D. & Supriadi, N. (2018). Media Animasi Menggunakan Macromedia Flash Berbasis Pemahaman Konsep Pokok Bahasan Persegi dan Persegi Panjang. Desimal: Jurnal Matematika. 1(2): 139-145
Chodzirin, M. (2016). Pemanfaatan Information and Communication Technology bagi Pengembangan Guru Madrasah Sub Urban. DIMAS. 16 (2): 309 – 332
Rahim, M. Y. (2011). Pemanfaatan ICT sebagai Media Pembelajaran dan Informasi pada UIN Alauddin Makassar. Sulesana. 6 (2): 127 – 135
Romadhoni, D. & Asngari. (2015). Penggunaan Geogebra dalam Pembelajaran Geometri. Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNY
Suryadi, A. (2007). Pemanfaatan ICT dalam Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. 8 (1): 83 – 98

Share:

Sejarah Pekembangan Matematika

Sejarah melibatkan 3 hal yaitu:
1. Peristiwa
2. Waktu
3. Tokoh

Dalam matematika, banyak tokoh yang terlibat menemukan berbagai pengetahuan misalnya saja Al-Khawarizmi yang dikenal sebagai bapak aljabar sekaligus penemu bilangan nol

untuk mengeahui sejarah perkembangan matematika lebih lanjut, Anda dapat membuka web dibawah ini:
https://www.slideshare.net/aisyahturidho/sejarah-perkembangan-matematika-170074926
Share:

Selasa, 02 Mei 2017

Macro Media Flash : Volume dan Luas Permukaan Kerucut

Materi bangun ruang termasuk materi yang dianggap sulit abgi siswa karena melibatkan dimensi serta susudt pandang siswa. Salah satu bangun ruang yang dianggap sulit yaitu kerucut. Pada realita pembelajaran, sering kali siswa hanya menegtahui rumus volume atau luas permukaan itu saja tanpa mengetahui dari mana rumus tersebut berasaal dan mengapa rumus volume dan luas permukaan tersebut bisa seperti itu. Pembelajaran tersebut sangat tidak bermakna karena itu artinya siswa tidak paham konsep dan siswa hanya menghafal. Sedangkan, kalau siswa belajar hanya sekedar menghafal maka ingatannya tidak bertahan lama atau cepat lupa. Maka dari, itu saya membuat Macro Media Flash dengan materi Volume dan Luas Permukaan Kerucut. Kalian dapat menyaksikan video perkenalan macro media flash yang saya buat dan mendownload file nya dengan mengklik dibawahn ini:
 


Share:

My SlideShare

About Unsri

Page Viewer

Flag Counter

Flag Counter

Feedjit

Translator

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified